Rabu, 25 Januari 2012

Dinding Kaca

Pagi ini begitu mendung, angin berhembus dingin dan membuat kulit terasa lembab dan basah. Aku berjalan menyusuri jalan dengan kendaraan berlalu lalang memasuki pelatara tower kampus. Aku berjalan tertunduk dan tidak ingin melihat siapapun di situ. Lagipula ini masih jam ujian, jadi semua jalan dan lorong yang aku lewati tak menampakan bayangan seseorang. Dan ketika aku berjalan melewati koridor lantai Ground baru terlihat beberapa kelas yang penuh dengan mahasiswa2 yang sibuk dengan komputer mereka masing2. Aku menengokkan kepala dan bergumam dalam hati, “Mungkin lagi ujian Aplikom. Atau entah mereka adalah anak2 Teknik Mesin..” Sejurus aku sudah berada di depan lift. Kutekan tombol panah ke atas (up) menuju Lantai 5, Perpustakaan yang sangat dingin dan tenang.


“Perpustakaan ini sama saja dengan kelas2 lainnya.” Pikirku dalam hati. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat dan diluar sudah turun hujan disertai angin kencang. Suasana ujian membuat perpus jadi tambah sepi dan dingin. Well, tanpa basa-basi aku menuju ke Librarian dan menyodorkan buku Mite Harry Potter yang sudah satu minggu aku pinjam, dan kuminta padanya untuk sekalian meminjam kunci loker. Ada beberapa alasan yang membawaku ke tempat dingin ini. Tempat dimana dulu selalu membuat urtikaria yang aku derita menjadi kambuh karena tidak tahan dengan hawa dinginnya. Huff…tapi itu dulu, dan sekarang aku sangat menyukai tempat ini. Bangunan mewah dengan seluruh dinding kaca menyelimuti tubuhnya. Disana aku bisa melihat seluruh gedung megah, atap rumah, jalan raya, lalu lalang kendaraan, kampusku, dan juga langit biru. 

Kumasuki lorong demi lorong rak buku yang berjajar tinggi. Labirin buku yang sekarang mengikutiku selalu membuatku merasa senang berada di dalamnya. Aku mengibaratkan tengah berada dalam labirin dan mencari “sesuatu” yang entah berada dimana dia bersembunyi, dan aku selalu menikmatinya. Banyak kejutan dan banyak hal yang bisa aku lihat ketika berada dalam labirin itu. Namun, tujuanku kali ini bukanlah untuk mencari “sesuatu” (baca : buku) itu. Aku ingin disni, ingin merasakan seluruh pikiranku terpusat pada apa yang tengah aku pikirkan. Pada apa yang saat ini berada di pikiranku selama sekian lama. Tentang cinta itu, tentang sayang itu, tentang ego itu, tentang masa depan yang aku impikan dengan cinta itu, tentang hasratku, tentang temanku, dan tentang semuanya. Sesaat aku mengingat Riyanti..Teman kecilku yang telah berpulang 4 hari yang lalu. Dia pergi, dan aku merasa sangat kehilangan satu teman terbaik yang pernah aku miliki. Tapi, bukan untuk itu aku berada di sini sekarang. 

Hujan lebat tengah turun diluar. Angin yang berhembus kencang membuat suasana menjadi gelap dan menambah dingin tempat ini. Ku alihkan pandangan keluar, ke arah dinding kaca. Hujan ini mengerikan. Langit gelap dan suram. Aku menatap langit itu dan bertanya dalam hati, “Apakah seperti itu hatiku sekarang?. Penuh dengan amukan dan rasa suram dan gelap tanpa cahaya sedikitpun…”

Dinding kaca itu telah basah. Dan tempat ini menjadi semakin dingin. Dan aku semakin tenggelam dengan pikiranku. Aku berusah untuk tetap fokus dan tidak mengosongkan pikiran. Aku ini kuat! Ya, aku kuat! Semuanya akan baik2 saja dan tidak perlu ada yang dicemaskan. Aku akan baik2 saja. Yang perlu aku lakukan saat ini adalah belajar melupakan dan mengikhlaskan. Dan itu mungkin memang baik untukku. Aku bisa lebih fokus untuk membahagiakan diriku sendiri. Ya, aku sendiri. Tidak perlu lagi bersedih hati. Semua perkenalan pasti ada perpisahan. Itu mutlak. Dan aku akan baik2 saja. Hidupku akan bahagia. Seperti langit yang saat ini kembali cerah. Langit yang tadinya kelam, saat ini kembali menjadi biru. Begitu juga hatiku. Aku dan hatiku akan baik2 saja. Begitu juga dengan semuanya. Pasti akan baik2 saja. Lupakan itu, dan aku akan menjadi manusia bebas yang tidak perlu lagi memikirkan hal itu terus menerus. Ya, aku akan baik2 saja….

0 komentar:

Posting Komentar